Jalan-jalan ke Pulau Tidung

Kadang kita merencanakan produk jauh hari, tapi rencana tersebut belum terlaksana. Namun kadang hal yang mendadak justru terlaksana. Itulah yang terjadi padaku serta seorang temanku. Pada H minus 3, kami berencana mengunjungi Pulau Tidung. Sewaktu ini teman-temanku yang pernah ke sini selalu ikut rombongan, sedangkan aku cuma berdua dengan temanku. Bukannya tidak mau jalan-jalan rombongan, tapi memang teman-teman yang tak ke Tidung tidak ada yang bisa datang karena rencana dadakan ini. Pada H-2 itu aku berusaha mencari informasi, benar lewat googling maupun bertanya pada yang sudah mendaratkan kakinya di Pulau Tidung. Dari pada hasil googling didapat info, bila via agen wisata Tidung, kita harus booking H-2 minggu. Suatu hal yang mustahil aku nikmati. Maka berbekal nomor telepon beberapa tempat menginap, info jadwal keberangkatan Kereta Commuter Bogor-Jakarta dan jadwal kapal, aku dan temanku siap meluncur ke Pulau Tidung. Pertamanya kami akan mengejar kereta paling awal dari Bogor, yaitu jam 04: 04, tapi karena pertimbangan solat subuh, so kami pilih waktu setelah solat. Masa yang pas adalah kereta keberangkatan tepat jam 04: 25. Namun saat solat melalui depan pelataran Dunkin Donut Stasiun Bogor (musholla sedang dipugar), kereta berangkat memakai cueknya meninggalkan kami. Alhamdulillah masih terdapat kereta jam 04: 36. Ternyata kereta masih lowong. Tahu begitu solat melalui kereta saja, ya, jadi duduk cukup diatur, solatnya bisa menghadap ke arah kereta jalan. Tapi ingat kata-kata teman, “Ih, mentingin Tidung amat sih, sampe solat aja jadi ala kadarnya. ” Kan, cukup solat dalam perjalanan.

Pulau Tidung

Pukul 06: 20 kami tiba di Stasiun Kota. Toko di sekitar stasiun masih tutup. Alhamdulillah tetasan kami sudah penuh perbekalan, jadi belum takut kelaparan selama di kapal. Lampau kami bergegas menuju ke depan Bank Sendiri yang ada di Kota Tua (tidak jauh dari pada Stasiun Kota) untuk mengejar bis Kopami 02. Ternyata bis yang berwarna biru semisal warna biru angkot di Kabupaten Bogor ini banyak yang ngetem di sana. Saya tidak berani melihat jam karena teriak membayangkan ditinggal kapal. Jadwal kapal kebanggaan yang kucatat dari hasil googling bagi hari non week end adalah tepat jam 06: 30. Ada juga yang membahas jam 07: 00. Entah mana dan benar. Alternatif lain adalah naik kapal fery kerapu di pelabuhan baru Kali Sejuk, tak jauh dari pelabuhan lama Muara Angke. Kegiatan keberangkatannya jam 08: 00, namun antriannya yang menggunakan tas dijejerkan (katanya) mulai dari subuh. Namun kapal cepat yang disubsidi pemerintah itu ada kuota penumpangnya. Karena kapal tradisonal bisa menampung sekitar 200 penumpang, so aku bulat memilih naik kapal tradisonal, karena kesempatan terangkutnya besar. Hanya saatnya yang buat deg-degan haha. Pilihanku rupa-rupanya tepat, karena ternyata kapal kerapu tengah tidak beroperasi.

Perjalanan dari Stasiun Tempat hingga dermaga lama Muara Angke membutuhkan waktu kira-kira 45 menit. Kami diturunkandi belokan depan Pembangkit Listrik Muara Karang-karang, dekat jembatan, sedangkan bis Kopami berbelok kiri menuju Terminal Muara Karang. Kala kami turun, ada angkot merah U11 yang mengantarkan kami ke Pelabuhan Muara Angke. Tiba di sanaternyata sedang banjir. Dari kejauhan terlihat genangan air berwarna-warni hitam. Sangat tidak mungkin kami menerobos kubangan itu. Di sekitar kami saat itu terdapat mobil odong-odong yang berjejer. Ketika kita akan menuju salah satu odong-odong itu, langsung ada mobil odong-odong yang sudah berpenumpang berhenti dan mengajak kami ikut. Alhamdulillah odong-odong langsung meluncur ke pelabuhan. Sepi mengurangi sutris karena berpacu dengan masa, euy! Tiba di pelabuhan sudah berjajar banyak kapal nelayan. Alhamdulillah kapal menuju Tidung masih ada. Akhirnya kami terangkut juga ke Pulau Tidung. Ternyata kegiatan kapal memang tidak tetap. Kalau mudah penuh, jam 06: 00 kapal cukup berangkat. Kapal ke Tidung saat hal tersebut berangkat jam 7: 30-an. Jadi kita menunggu lebih dari 30 menit di kapal. Biarlah menunggu dari pada gagal ke Tidung gara-gara ketinggalan kapal.

Paket Pulau Tidung

Kapal tradisional berlantai satu ternyata tidak hanya dijejali penumpang, tapi pula barang, seperti telur berpeti-peti, kopi berdus-dus, dan barang lainnya. Penumpang bisalesehan didalam atau pun di luarkapal. Bisa jadi daya tampung belum sampai 200 karena banyak penumpang dan datang lebih awal memilih VW, atau malah ada yang dalam posisi tidur sempurna, terlentang. Tapi begitulah kita harus banyak permakluman dalam angkutan umum. Aku dan teman, lantaran kehabisan tempat, duduk di luar, di samping gerbang nahkoda. Namun aku senang bisa menonton laut dari dekat. Aku bisa menonton perubahan warna air laut, mulai dari dermaga warna hitam, lalu menjadi hijau, lalu biru tua yang menandakan laut dalam. Lantaran duduk di luar, panas matahari terasa luar biasa menyentuh kulit. Untung aku bawa masker dan kaca mata hitam, jadi sekitar wajah yang tidak tertutup bisa terlindungi dari paparan panas yang menyengat. Kala di kapal kami baru menelepon sekian banyak penginapan. Aku mencatat nama beberapa tempat menginap yang kupikir dari namanya terdengar secure. Saat itu aku menelepon dua tempat menginap. Dua-duanya bertarif Rp250. 000, 00 persatu kali cekin. Akhirnya aku memilih penginapan bernama Kautsar. Alhamdulillah tarif bisa nego menjadi Rp200. 000, 00. Mungkin karena yang tidur hanya dua orang. Penginapan itu cukup menampung 4-5 orang perkamar. Oiya, harus ingat membawa nomor HP beroperator Telkomsel maupun Indosat. Nomor selain yang dua hal tersebut tidak bernyawa di laut 1 jam trip Tidung. Ingat, jangan sampai Anda merelakan gaya karena tidak bisa ngenet sewaktu di Tidung atau di pulau ini.

Akhirnya setelah kira-kira 3 jam mengarungi lautan dan melewati Pulau-pulau, dari kejauhan terlihat sebuah pulau memakai masjid megah berwarna putih. Setengah jam kemudian kita mendarat di dermaga Pulau Tidung. Kala ditelepon, ternyata CP penginapan kautsar sering menunggu di dermaga. Lalu kami duguide ke penyewaan sepeda. Harga sewa sepeda adalah Rp15. 000, 00 per 15 jam. Sudah lama tidak mengendarai sepeda sebagai agak tidak pede karena lebar akses berpaving block hanya 2 meter serta harus berpapasan dengan bentor khas Kepulauan Tidung. Di penginapan kami beristirahat sekejap, lalu menjelang zuhur kami bergegas memakai mengowes sepeda menuju masjid putih dan kami lihat dari kapal. Tiba disini saat azan. Karena sudah wudhu dari pada penginapan aku langsung naik ke level dua, khusus wanita. Lebih dari 5 mnt solat berjamaah belum juga dimulai. Kulihat di bawah hanya ada 3 orang lelaki. Jadi ingat percapakanku dengan seorang member sebuah jamaah dari Hyderabad India dan mengunjungi Indonesia. Orang India ini sebut masjid-masjid di Indonesia jamaahnya sedikit kala solat fardu. Sedangkan di India ribuan. Yah, harus menjawab apa diriku itu.

Beres solat, kami langsung meluncur menuju Jembatan Cinta yang suasananya mirip disini. Mendekati TKP, kami naik sepeda di antara dua pantai. Pantai belahan kiri terlihat sangat jernih. Kami terhenti sebentar hanya untuk poto-poto. Tiba melalui kawasan Jembatan Cinta, kami memarkir sepeda di area parkir. Tarif parkir di seluruh spot adalah Rp2000, 00. Saat hal tersebut tengah hari. Panas menyengat, jadi belum begitu banyak orang di sana. Yang kita lakukan adalah mengisi perut. Betapa nikmatnya minum air kelapa ditambah es serta makan bakso. Karena BBM naik, seharga kelapa pun menjadi Rp15. 000, 20. Komentar temanku tentang bakso yang kita makan di sana adalah seperti makan kawat, karena mie dan bihunnya masih beralhohol. Setelah makanan turun, kami menuju ke Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Yang besar dan Kecil. Di dekat jembatan banyak penginapan snorkeling ataupun penjualan tiket wahana khas pantai seperti banana boat, donat boat, rolling boat, dll. Anda harus siap basah andai berminat mencoba wahana mendebarkan dan perlu stamina ini, karena pada akhirnya traveler wahana akan ditumpahruahkan ke laut. Seluruh wahana dan alat snorkeling bertarif Rp35. 000, 00.

Saat berjalan di Jembatan Cinta, kami melihat ada sekelompok kawula muda sedang berjalan di laut. Ternyata ombak sekitar jembatan tidak dalam! Aku yang belum berniat basah-basahan akhirnya mengikuti jejak seorang. Kami mulai berjalan dari ujung jembatan dari sisi Pulau Tidung Kecil. Alhamdulillah terdapat penjaga pantai yang memberi kami plastic besar, sehingga tas dan bawaan kita bisa dimasukan ke dalam plastik. Kami menjejakkan kaki dengan memanggul kantong plastic besar. Tetapi karena di air, kantong itu justru bisa menjadi balon pelampung. Saat menjejakkan kaki dari jembatan dua orang penjaga dermaga memperingatkan kami agar memakai alas kaki, karena ada ikan yang hidup melalui terumbu karang dan juga bulu babi. Menurut seorang bila kaki kita digigit ikan kepu bisa mengakibatkan kaki kita tidak cukup digerakkan. Lalu kami menu njukkan bila kami sudah memakai sepatu. Awalnyakami bertelanjang kaki, tapi karena sakit jalan dari terumbu karang, maka kami memakai sepatu kita. Tidak salah deh memakai sepatu serba guna, Crock. Tidak terasa berjalan rupa-rupanya ketinggian air sudah mencapai dada. Kita ketakutan. Bagaimana tidak takut, saat hal tersebut tidak ada orang, kecuali kami. Kalo terwujud apa-apa kan gawat karena kami pula tidak memakai life vest. Ternyata dalam sehari sebelum kami ke sana, ada masyarakat yang meninggal di laut karena langsung ada ombak. Jadi memang harus hati-hati. Bagusnya memang memakai life vest serta alat snorkling dan ada guidenya. Alhamdulillah kami tahu diri.

Saat di darat, kami baru sadar tenyata plastik kita bocor. Tas dan bajuku basah! Alhamdulilah HP dan barang berharga lainnya selamat, karena memang kami masukkan ke dalam tetasan plastic. Sambil berjemur, kami mulai sadar kawasan Jembatan Cinta mulai dipenuhi masyarakat. Saat itu waktu sudah mendekati petang. Oh, jadi banyak yan g out penginapan menjelang sore. Kami tidak mampu menunggu sunset di Jembatan Cinta. Lalu kami memutuskan kembali ke penginapan. Berdasarkan pengelola wahana air, sunset dan matahari terbit bisa dilihat di Jembatan Cinta. Oiya, kami baru tahu ternyata Jembatan Kisah asamara terletak di ujung Timur Pulau Tersebut, jadi cocok untuk melihat sunrise. Namun sunset cocok dilihat di ujung bagian barat, yaitu di Pantai Saung. Tapi kalau kita balik lagi pada subuh hari ke Jembatan Cinta, berarti kami tidak bisa mengunjungipantai di sebelah barat. Akhirnya, kami memiliki rencana untuk mengejar sunrise di spot salahnya, di pantai ujung barat Pulau Tidung haha.

Jam 05: 15 kami keluar dari tempat menginap. Masih gelap dan jalanan lengang. Ada sepeda dan motor terparkir di dekat jalan. Sepertinya di sini keadaannya aman. Lantaran takut tidak aman, kami memasukkan sepeda sewaan kami ke penginapan, kan berabe kalo harus ganti haha. Lagian dipikir-pikir kalo mau nyuri juga si pencuri mau naro di mana itu sepeda, hari mau berenang pake sepeda ke Muara Angke? Haha. Untung saja penginapan kita cukup luas, terdiri dari ruang tamu (terdapat dispenser air panas dan TV), ruang lingkup tengah untuk tidur, dan kamar mandi. Perjalanan trip Pantai Saung melewati semak-semak. Agak teriak juga sih karena kami hanya satu orang wanita. Jalanan menuju ke pantai juga banyak cabangnya. Jadi setiap bertemu penghuni pasti kami tidak segan untuk menanyakan. Sebelum tiba di pantai tujuan, kami hinggap di sebuah jembatan dari bambu dan terputus. Temanku menyebutnya Jembatan Putus Kisah asamara haha. Di sana kami masih melihat berwarna jingga di kaki langit. Kami belum bisa berlama-lama di Pantai Saung, karena wajib mengejar kapal yang berangkat jam 08: 20.

Selama kami di Pulau Tidung, kita sempat melintasi beberapa sekolah, yaitu: MTs, SMK dan MAN, puskesmas yang mewah, juga ada rumah tradsional joglo, bisnis kelurahan di mana terdapat ATM Bank DKI, juga lewat kantor kecamatan. Pulau Tersebut sendiri merupakan sebuah kelurahan dari Kawasan Administrasi Pulau Seribu, yang memiliki satu kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Seribu Sebelah utara dan Selatan. Pulau Tidung masuk ke yang ada didalam Kecamatan Pulau Seribu Bagian selatan. Awalnya laut Seribu masuk ke dalam Kotamadya Jakarta Sebelah utara. Lalu ditingkatkan statusnya jadi Kawasan Administrasi. Penduduk pulau iniberasal dari Provinsi Banten dan juga ada orang Betawi. Mereka baik terhadap pendatang. Mudah-mudahan mereka tidak tercemari oleh tingkah laku para pengunjung, karena sewaktu di Pulau Tidung kami melihat ada pasangan muda yang mudah-mudahan saja seorang adalah pasangan menikah. Pemakaian steroform si sampah abadi seharusnya dihindari, untuk itu alangkah baiknya LSM yang concern terhadap persampahan dating dan memberi pengarahan kepada penduduk semoga menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Rekreasi singkat ke Pulau Tidung bagiku begitu berkesan, karena bisa melihat keindahan pantai berupa kejernihan laut sehingga kita cukup melihat biota yang ada di dalamnya, juga lantaran aku bsia bersepeda yang sepertinya bisa memanggang kalori dalam jumlah banyak haha. Harapkan bisa ke sana lagi supaya cukup siap bersnorkling riya. Baca juga info tentang Pulau Pramuka

You May Also Like

About the Author: Otong Surotong

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.